Minggu, 20 Desember 2009

Anak Langit

melalui penyatuan tujuh lapis langit itulah akan lahir anak langit
yang ku utus ia sebagai sumber harapan seluruh mahluk bumi.
pabila waktunya tiba akan aku angkat ia kembali kepadaku
dan ku tempatkan ia disisiku.




Banyu, demikianlah ku sebut namanya. Lelaki muda dengan segudang kebaikan. Beliau adalah seorang pengembara yang selalu mensyiarkan ajaran langit kepada para penghuni bumi. Dengan kehadirannya manusia seolah menemukan malaikat,

Dengan datangnya beliau disuatu tempat maka akan makmurlah tempat tersebut, karena itu raja dunia mengharapkan kehadirannya, dan setiap manusia mengelu-elukannya.

Pernah ku ingat suatu ketika ada hutan yang terbakar api dengan kobaran yang besar, Banyu di undang datang oleh seorang ketua adat untuk memadamkan kobaran api itu,. Benar saja, ketika kedatangannya, api itu segera sujud merebah dan merendah hingga akhirnya padam.

Ku dengar kabar juga disuatu negeri sedang ditimpa kelaparan, tak ada tumbuh-tumbuhan yang hidup, meranggas dibakar cahaya matahari, begitu juga hewan-hewan mati, hingga akhirnya seorang pawang yang sakti memanggil Banyu dengan ilmu telepati hingga tahulah ia bahwa di negeri itu sedang memerlukan bantuannya. Beliau datang dan membereskan masalah tersebut.

Begitu tersohornya hingga ditiap-tiap rumah seolah Banyu adalah telah menjadi bagian dari keluarga yang selalu mereka perhatikan dengan menyimpan namanya ditiap-tiap wadah dan diambil aura positifnya untuk kemakmuran mereka.

Tapi, hal itu tidak berlangsung lama, ketika raja dunia yang iri dan demi kepentingann pribadinya berusaha untuk menyingkirkan Banyu karena Banyu dianggap sebagai saingannya untuk menjadi ia sebagai raja yang paling tersohor dan dihormati.

Raja memanggil penasehat kerajaan untuk meminta nasehatnya tentang usaha untuk menghancurkan kepopuleran Banyu, atau kalau bisa membinasakannya.

“Wahai penasehat tahukah engkau, bahwa aku hendak menyingkirkan Banyu. Karena seluruh manusia telah menganggapnya rasul. Dan tahukah engkau bila di dunia ini ada rasul maka peringkat raja akan menjadi nomer dua bagi rakyat.” Berkatalah raja dunia.

“Benar sekali Baginda, hambapun beranggapan demikian. Menurut hamba memang susahlah untuk membinasakan ia, karena Bagindapun tentu tahu Banyu sungguh tiada bandingannya. Bahkan panasnya api pun takluk padanya.” jawab penasehat.

“Lantas bagaimana seharusnya?” Tanya raja tersebut.

“Menurut hamba hendaklah kita seolah berbaik-baikan saja dahulu dengan dia, hingga kita mengenal sifat dan kelemahannya.”

Maka diundanglah Banyu dalam suatu acara perjamuan akbar hingga senanglah hatinya

Raja berkata kepada rakyat-rakyatnya : “Wahai rakyatku maksudku mengadakan perjamuan ini adalah untuk menghormati jasa-jasa dari Banyu sebagai bagian dari kita semua. Ia adalah seorang utusan Tuhan yang mengendap ke bumi hingga ke dasar perut bumi, karenanya terciptalah segala macam kemakmuran dan berkat ia pulalah kita dapat melihat perwajahan* Tuhan . Maka mulai saat ini aku angkat dia sebagai satu kedudukan dengan ku.

Hingga akhirnya didapatlah tipu muslihat untuk membinasakan Banyu, yaitu dengan racun. Raja itupun menciptakan bangunan untuk membuat raja racun yang diracik dari 1000 macam racun dengan dalil untuk mensejahterakan rakyat. Maka dari racikan racun tersebut seolah tercipta dua mata uang logam, di satu sisi memang menghasilkan 1000 macam kebaikan dan di sisi lain menghasilkan 1 macam jenis racun baru yang disebut LIMBAH, raja dari segala racun.

Ketika disuatu saat limbah racun yang mempunyai mata setan itupun di alirkan ke sungai tempat dimana Bayu sedang mengisi waktu senggangnya dengan bermain dengan ikan-ikan. Tiba-tiba saja ikan-ikan menggelepar, dan Bayu sekarat penuh penderitaan, penderitaannya memancar kepenjuru negeri hingga alam raya menangis, hewan bergelimpangan dan mayat-mayat manusia berserakan

“Wahai penguasa langit, mereka telah mendustai aku. Maka angkatlah aku setelah kematianku !” Begitulah ratapan Banyu

maka terangkatlah doanya kelangit, dan Penguasa langitpun mengutus Mentari untuk menjemput jasad Banyu ke angkasa.

Dengan cahayanya Mentari berkata : “Wahai Banyu, Sang Penguasa langit telah mendengar ratapmu. Tapi engkau belum waktunya bila harus kembali ke haribaan-Nya. Kematianmu yang haq adalah ketika hari kegoncangan, hari penghancuran semesta. Maka ku hanya bisa mengangkat Jasadmu hingga ke permukaan langit, engkau dapat menyentuh muka langit tapi engkau tidak dapat masuk ke dalamnya, maka disanalah ruh-mu akan dikembalikan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berfikir.

Maka matilah Banyu sebagai seorang syuhada dan seluruh alam seolah bersedih melepaskan kepergiannya. alam menjadi pucat pasi dengan meminjamkan warnanya membentuk titian pelangi untuk menghantarkan jasad Banyu ke langit.

Sesampainya di langit, titian pelangi pun menghilang, warnanya berpendar kembali kepada para pemiliknya di Bumi

Jasad Banyu yang telah terkontaminasi oleh racun itupun berubah menjadi awan hitam, semakin pekat, pekat dan akhirnya sesuai keputusan dari penguasa langit, ruh Banyu pun dikembalikan serupa halilintar yang menggelegar, Dan pada akhirnya Banyu pun kembali menjadi Banyu, seorang rasul yang memberi peringatan kepada manusia dengan menenggelamkan dunia dengan banjir besar, dan memberi peringatan kepada yang masih hidup bahwa tidak dibenarkan membunuh para rasul, apapun bentuk dari rasul itu.

___________________
* Penampakan yang menjadikan yakin akan ada-Nya

Selasa, 15 Desember 2009

Ketika Puisi dipertuhankan

KETIKA PUISI DIPERTUHANKAN

(Tinjauan Ilmu Sastra dan Konsep Akidah Keislaman)


Oleh :

Miftahur Rahman el-Banjary*

( Tim Milis Word Smart Center , Cairo )



Pada mulanya artikel ini hanya berupa tanggapan terhadap artikel "Puisi adalah Tuhan" yang ditulis oleh Mbah Kuntet Dilaga. Oleh karena itu, saya mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada beliau yang telah berkenan menuangkan gagasan pemikiran yang begitu menginspirasi untuk berpikir. Ketika saya mulai menulis, terbesitlah gagasan-gagasan baru yang harus saya ungkapkan, sehingga jadilah sebuah artikel singkat ini. Saya anggap tema ini menarik sebagai diskusi sastra kali ini. Sekali lagi, artikel ini hanyalah merupakan gagasan-gagasan penguatan dari artikel sebelumnya, yang masih perlu kita perbincangkan dan diskusikan lagi selanjutnya. Dengan harapan, semoga milis WSC ini menjadi lebih cerdas, kreatif, dan aktif membicarakan fenomena-fenomena sastra, sesuai dengan misi WSC yang tertuang pada konsep kedua, Gerbang Batu.


Menanggapi pernyataan 'sahabat penyair' yang mengatakan, "Puisi adalah Tuhan". Sekilas jika dilihat dari pernyataan tersebut, tampaknya terkesan provokatif, dan menggambarkan betapa sang pujangganya sangat tergila-gila pada puisi, sehingga sang pujangga sampai menempatkan puisi pada posisi sederajat dengan Tuhan. Atau bahkan, menafikan eksistensi ketuhanan. Wallahu 'alam. Saya mencoba membahas kasus diatas dengan tema yang tak jauh berbeda, "Ketika Puisi Dipertuhankan" . Tampaknya tema ini sesuai dengan realita kehidupan 'seniman tertentu' yang mengatasnamakan kebebasan berkreasi dan tak perlu mengindahkan aturan-aturan normatif, sehingga seringkali kebenaran menjadi sesuatu yang nisbi. Agar pembahasan ini lebih obyektif, maka saya akan membahasnya dari dua aspek. Pertama, tinjauan psikologis sastra atau dalam istilah sastra Arab disebut dengan manhaj nafsiyyah. Dan yang kedua adalah tinjauan akidah keislaman atau aqidah Islamiyah secara singkat.


Mengawali pembahasan kajian sastra ini, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu tentang tahapan perkembangan daya nalar seorang sastrawan. Awalnya puisi tercipta dari hasil perenungan dan pemikiran mendalam. Ketika manusia mulai merenung, dan terus berpikir, maka ia akan menangkap suatu titik 'sinyal kesadaran', yang disebut dengan inspirasi. Inspirasi yang melahirkan suatu keindahan, seringkali kita sebut dengan seni. Dan seni yang lahir dalam bentuk rangkaian kata-kata yang sarat dengan makna, biasanya disebut dengan puisi, sajak, atau syair, dan pelakunya kita sering sebut pujangga atau penyair.


Biasanya inspirasi puisi muncul dari fenomena-fenomena alam atau kondisi sosial di sekelilingnya. Misalnya, melihat burung yang terbang melayang di langit, maka muncullah gagasan untuk membuat puisi tentang kebebasan. Terciptalah sebuah puisi, misalnya, "Aku ingin terbang seperti burung." Tahapan semacam ini, masih berpusat pada tataran realita sosiologis, artinya puisi-puisi yang dihasilkan lebih bersifat fakta kehidupan, baik itu merupakan reaksi atau pun kritik sosial, maupun pesan-pesan moril yang mengandung etika atau estetika dalam kehidupan bermasyarakat.


Pada tahapan selanjutnya, manakala seorang penyair atau pujangga hanyut tenggelam dalam 'lautan inspirasi', maka pada saat-saat tertentu nalarnya tidak lagi terbatas pada hal-hal yang kongkrit saja, dan mulailah daya nalarnya mulai masuk ke wilayah metafisika yang bersifat transcendental. Ketika ia semakin dalam menyelami samudera puisi tersebut, disanalah sang pujangga nantinya menemukan 'mutiara-mutiara' hikmah yang mulai tersingkap. Pada saat itu, yang ia rasakan hanyalah keterpukauan dan keterpesonaan yang melampaui jangkauan nalar dan logikanya sendiri. Inilah yang kemudian disebut dengan imajinasi. Dan di saat seorang pujangga sudah mencapai titik puncak keterpesonaan tertinggi, atau imajinasi tingkat tinggi, maka konsekuensinya akan mengakibatkan kondisi jiwa yang tak terkontrol dan berada di bawah titik alam sadar. Inilah yang dalam istilah dunia sufi disebut dengan istilah sakar atau sepadan dengan makna mabuk atau sakau. Ia asyik dengan dirinya sendiri bersama dunia lain.


Manakala sang pujangga tersebut mencoba mengungkapkan fenomena keterpukauanya tersebut, ternyata bahasa lisan sudah tidak mampu menterjemahkannya, kecuali hanya dengan isyarat atau simbol-simbol saja lagi. Pada kondisi semacam ini, terkadang muncullah ungkapan-ungkapan puisinya yang 'aneh', sulit untuk dipahami, membuat kebingungan orang yang mendengarnya, terkesan 'nyeleneh', bahkan bisa menimbulkan salah kaprah yang berujung fitnah, sebagaimana puisi-puisi kontraversial penyair-penyair sufi, semisal al-Hujaj dan Ibnu Araby. Yang ingin saya sampaikan disini adalah, bahwa dalam dunia sastra ada kondisi-kondisi psikologis tertentu yang menuntut sang pujangga harus 'berbahasa kontraversial untuk mengungkap rasa.'


Namun, dari tinjauan konsep aqidah Islamiyyah berbeda, ada norma-norma dan aturan yang membatasi. Dengan pengertian sederhana, ungkapan ekspresi jiwa seorang pujangga dalam bingkai 'keterpesonaan' sah-sah saja, selama tidak menyangkut batasan akidah. Kasus ungkapan "Puisi adalah Tuhan" ini misalnya, sudah termasuk dalam bentuk pengingkaran eksistensi ketaudihan Sang Pencipta Yang Maha Esa, yang dalam bahasa agama disebut syirik. Jadi, jelaslah bahwa ungkapan seperti tersebut diatas, sama sekali tidak dibenarkan dalam konsep tauhid, baik ungkapannya secara hakiki atau maknawi, baik secara tersurat atau tersirat, bahkan majazi sekalipun. Dan jelas-jelas bertentangan konsep ajaran Islam.


Secara tegas Allah swt mengecam orang-orang yang mensekutukannya dengan makhluk yang lain. Kita bisa merujuk ke surah Al- Imran: 64, surah a-Nisa: 36, al-An'am: 19, al-'Araf: 33, Yusuf: 38, al-Hajj: 26, Luqman: 13, Ghafir: 42, al-Ahqaf: 4, al-Qalam: 41, al-Jin: 2. Mengumpamakan Allah dengan sesuatu benda atau mahkluk merupakan bentuk syirik, baik itu secara 'itikad, perbuatan, maupun perkataan. Penjelasannya telah dijelaskan panjang lebar oleh Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary dalam kitab "Fasaidul Aqaid".


Argument 'sahabat penyair' yang mengatakan bahwa ketidakmampuan puisi itu diraba, namun ada secara eksistensinya, tidak dapat dijadikan dalil ketuhanan. Secara ilmu mantik saja, logika tersebut sudah bisa terbantahkan dengan analogi iblis, syetan, jin, malaikat, surga dan neraka yang secara eksistensinya juga ada, dan tidak dapat diraba secara materi. Lantas apakah setiap sesuatu yang ada eksistensinya, namun tidak dapat raba materinya dapat disebut Tuhan? Tentu tidak bisa, bukan? Sama halnya dengan akal, pikiran, khayalan, roh, udara, benda-benda abstrak lainnya, juga ada secara eksistensi, namun tidak bisa diraba. Puisi adalah hasil inspirasi dan kekuatan daya imajinasi. Dapatkah kita meraba insprasi? Tentu tidak, sebab ia bukan materi. Dengan demikian, tidak semua yang tidak bisa diraba itu disebut Tuhan!


Puisi adalah bahasa jiwa dan bahasa rasa. Sedangkan bahasa adalah ciptaan Tuhan. Setiap ciptaan Tuhan adalah makhluk. Dan makhluk tidaklah pantas disebut dengan Tuhan, dan tidak pantas pula dipertuhankan. Tidak ada sifat-sifat ketuhahan yang terdapat dalam puisi, bahkan menyerupai sifat-sifat ketuhanan sekalipun tidak sedikitpun menyerupai. Maha suci Allah dari segala bentuk penyerupaan! Oleh karena puisi adalah hasil inspirasi, daya akal manusia, maka ia bukan pula ilham apalagi wahyu. Lantaran ia bukan wahyu, maka tidak ada kebenaran mutlak di dalamnya.


Inspirasi masih berada pada tataran akal, namun ilham dan wahyu berada tataran transdental ilahiyyah. Pada prakteknya, akal masih melakukan pertarungan dengan nafsu angkara murka. Terkadang akal yang menang terhadap nafsu, dan sebaliknya nafsu yang menguasai akal. Lantaran puisi adalah karya akal manusia, maka ia semata-mata tidak akan mampu menunjukkan kepada cahaya kebenaran ilahiyah, sebab masih ada kabut nafsu yang menyilimutinya. Dengan demkian, ketika puisi 'dipertuhankan' , maka jadilah ia budak akal dan sekaligus nafsunya. Inilah alasannya mengapa Imam al-Ghazali menentang pemikiran Ibnu Araby yang menempatkan logika diatas wahyu. Wallahu'alam.


Sumber inspirasi :

-Al-Qur'an al-Karim

-Fasaid al-Aqidah, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary

-Tahafut Falasifah, Imam Ghazali.

- Manahij Naqd al-Adab, Dr. Shalah Fadhil.

-Asalib as-Sya'ri al-Mu'ashir, Dr. Shalah Fadhil.

Senin, 14 Desember 2009

Puisi adalah Tuhan

Seorang sahabat penyair menyatakan “ Puisi adalah Tuhan” karena ia mempunyai sifat-sifat ketuhanan; ada tapi tak dapat di raba.

Tapi benarkah puisi adalah Tuhan ? tentu saja jawabannya, bukan. Puisi lebih condong kepada pewahyuan dari suatu perjalanan bathin seorang penyair yang datang baik secara spontan ataupun lewat perenungan yang dalam terhadap suatu peristiwa yang menimpa diri dan sekitarnya.

pewahyuan ini di peroleh lewat alam sadar ataupun lewat alam tak sadar. Jadi bisa di katakan puisi adalah Kitabullah, mulanya kitabullah itu tersirat (tersembunyi) kemudian datang/diketemukan, dan pada proses selanjutnya menjadi tersurat (tertulis).

Segala sesuatu yang dicipta oleh Tuhan adalah ciptaan dan bukan Tuhan, Al-Kitab (Jabur, Taurat, Injil dan Al-Quran) adalah firman Tuhan, firman bukanlah Tuhan. Nur Muhammad (cahaya semesta) berasal dari Cahaya Tuhan, tapi bukan Tuhan, Kalimatullah (Isa as) adalah Kalimat-Nya tapi bukan Tuhan karenanya Allah pun menguatkannya dengan Ruhul Quddus, kenapa dikuatkan? Karena segala ciptaan itu hakekatnya lebih lemah dari yang mencipta. Allah itu ada dengan sendirinya sedangkan selain dari Allah (Mahluk) adalah ada dengan di cipta (di adakan).

“Ah, puisiku melampaui aku!” mungkin kita pernah terperangah dengan salah satu puisi yang kita buat ternyata puisi tersebut mempunyai daya kekuatan melebihi dari pengetahuan penyair pada saat menuliskannya, ternyata puisi-puisi tersebut mempunyai karakter/sifat yang lebih dari apa yang pernah terlintas pada saat di buat, dan rahasia sebuah puisi tersebut baru nampak ketika (pembaca) mulai menyelami lautan puisi tersebut, barulah nampak isi dari samudra, bahwa bukan hanya ikan dan kerang yang ada disana tetapi juga mutiara. Itulah daya magic dari suatu puisi, itulah ruh dari puisi dan setiap ruh akan mengalami kondisi kejiwaannya sendiri, itulah kenapa seorang pembaca mungkin akan menemukan makna yang beda/pun lebih dalam penafsirannya dari si penulis karya.

Puisi pada dasarnya adalah sudah ada, seorang penulis puisi adalah penemu tapi bukan pencipta, puisi itu semisal burung-burung yang beterbangan di angkasa, maka siapa yang mempunyai akal maka akan dapat menangkapnya, ataupun seperti harta yang tersembunyi di semesta, siapa yang menemukannya maka ia akan kaya. Karenanya banyak pula para penyair yang menemukan puisinya di alam ini; di batu, air, udara, kayu, gunung dsb, ataupun didalam dunia yang tak nampak seperti kesedihan, rasa senang, cinta dan lain sebagainya.

Bila puisi yang terlahir adalah sebuah Wahyu tanpa Nabi *), dan bila didalam sebuah puisi tersebut ditemukan sebuah pengajaran (ilmu) yang baik kenapa tidak kita petik hikmah dan kemudian memakannya?

Kolonglangit, 28 Februari 2009


_________________
*) Wahyu tanpa Nabi = mengutip teoritis dari Hudan Hidayat

Selasa, 17 November 2009

Resensi Novel Casuarina

Oleh: MK. DILAGA


Sebuah peribahasa menyatakan : “Life is a dream walking, death is going home.”

Banyak orang menyatakan bahwa ketika meninggal dunia, maka secara spontanitas kita akan masuk kedalam alam keabadian, tetapi tidak begitu halnya dengan pendapat dari Asri Prabosinta. Dalam novel Casuarina, beliau mengungkapkan bahwa ada sebuah lorong yang menghubungkan antara alam nyata dan alam keabadian. Di lorong ini banyak pula ruh-ruh yang tersesat dan ingin kembali kedunia, merekalah yang disebut ruh marakayangan (gentayangan). Mereka biasanya adalah ruh-ruh yang mengalami kematian tidak wajar dan merasa harus menyelesaikan suatu urusan di dunia. Mereka berada di lorong penghubung batas alam nyata dan alam keabadian dan bermaksud kembali tetapi tiada sanggup untuk menghadirkan diri di dunia karena adanya keterbatasan bentuk, maka mereka yang termasuk roh marakayangan ini biasanya memberikan semacam tanda/firasat kepada mereka yang hidup agar urusannya dapat terselesaikan, baik itu melalui mimpi ataupun melalui penampakan, nampak disini adalah seperti bayangan yang tidak dapat diraba ataupun dirasa karena hakekatnya itu adalah ruh yang tak lagi mempunyai ruang.

Kisah dalam Novel Casuarina ini dimulai dengan sebuah kematian dari si tokoh “aku” yang selanjutnya diketahui bernama Jessica yang mati secara mengenaskan. Si Jessica ini ingin menyampaikan pesan kepada orang-orang yang dicintainya agar mereka mengetahui bahwa dia telah dibunuh dan menunjukan siapa yang telah membunuhnya.

Seperti ungkapkan dari peribahasa “Life is a dream walking, death is going home.”, bahwa kita pada mulanya berasal dari alam keabadian kemudian lahir ke alam nyata dan akan kembali pula ke alam keabadian. Inilah makna “going home” atau dalam bahasa keseharian kita mengenalnya dengan kata “dari asal akan kembali ke asal.” Maka diceritakan didalam Novel ini, Jessica yang sedang berada di lorong penghubung antara alam nyata dan alam keabadian, berpapasan dengan ruh kelahiran Sara. Maka ia memutuskan untuk menyampaikan pesannya lewat Sara, seperti perkataan Jessica “Seseorang harus ku temui. Hanya itu yang kupikirkan: Mendatangi bayi itu.”

Novel ini menyuguhkan sebuah misteri hilangnya Jessica dan berbagai macam kemungkinan tersangka dari tokoh lainnya. Semisal Jali yang pernah kehilangan pacarnya dan kemudian terobsesi kepada Jessica. Ada juga Brewok yang trauma akibat kehilangan keluarganya dalam tragedy kebakaran dan yang terakhir adalah Oom Willy, kontraktor yang membangun rumah Kayu milik keluarga Jessica.

Sara mulanya tak bisa mengenali bahwa ada yang memberikan bisikan/pesan disepanjang hidupnya. Tetapi ketika ia mulai datang ke Cijunjung, daerah tempat dimana Jessica di bunuh. Ruh Jessica lebih leluasa untuk menampakan diri hingga akhirnya ia mampu berinteraksi dengan Sara dan menampakan secara misterius keberadaannya di bawah pohon besar, dan kemudian mengajak Sara ke kediamannya di rumah kayu dekat sungai.

Sara mulanya tak menyangka kalau Jessica yang ditemuinya adalah ruh, kejanggalan ini ia dapatkan ketika ia dan ibunya melihat-lihat lukisan di gallery Albert (kekasih Jessica), dan keterangan Albert yang menyatakan bahwa Jessica telah hilang dan kemungkinan terbesar adalah Jessica telah meninggal 17 tahun yang silam.

Sara yang merasa bersimpati dan sayang kepada Jessica memutuskan untuk mencari keberadaan Jessica. Dibantu oleh kakak-kakaknya dan juga Dave serta Albert, Sara mengumpulkan informasi serta kemungkinan-kemungkinan yang melibatkan hilangnya Jessica, hingga akhirnya mendapatkan titik terang melalui sebuah Lukisan karya Albert yang dipajang di ruang tamu Oom Willy yang mengingatkan pertemuan Sara dengan Jessica. Sara dan yang lainnya mulai menyusun puzzle-puzzle misteri tersebut sehingga dapatlah diperoleh dugaan siapa yang menjadi dalang pembunuhan Jessica.


Alur, Penokohan, Latar, Gaya Bahasa dan Majas

Seperti kebanyakan Cerita Misteri, Novel ini pun menggunakan alur mundur, dimulai dari kematian si “Aku” dan selanjutnya mundur ke awal dari malapetaka itu yaitu kedatangan Jessica dan keluarganya untuk melihat pembuatan Villa barunya di Cijunjung, kemudian kedatangan si pembawa pesan Sara, lalu dilanjutkan dengan penyelidikan dan yang terakhir pengungkapan pelaku kejahatan. Tak ada tehnik yang spesial dari alurnya yang terkesan sudah umum digunakan satu-satunya yang cukup membuat terhentak dan memicu andrenalin adalah berita dari Albert tentang kematian Jessica kepada Sara. Disini pembaca akan diingatkan kembali tentang cerita awal kematian Jessica yang misterius (Bab Mimpi Indah yang Terwujud – Aku), dan mulai menerka-nerka siapa dan apa motivasi dibalik kematiannya? siapa yang melakukan pembunuhan keji itu? Dan siapa bayi yang didengar oleh sara? Apakah bayinya atau bayi orang lain?

Untuk penokohan, Asri Prabosinta cukup menguasai dan piawai menggambarkan karakter dan juga fisik dari para tokoh yang dihadirkan. Begitu juga latar dari cerita cukup detail. Walau di bab awal perihal kematian Jessica tak di jelaskan tentang kapan dan dimana Jessica dibunuh, tapi pada bab-bab selanjutnya dapat dimengerti alasan tidak adanya latar dan waktu terjadinya pembunuhan tersebut.

Gaya Bahasa dalam buku ini menggunakan bahasa yang bisa dibilang bahasa yang nyeleneh, cool, gaul dan ada di beberapa bagian yang menggunakan kata-kata puitis nan indah. Ini adalah salah satu ciri khas gaya penulisan dari Asri Prabosinta yang membedakannya dengan penulis lain yang kerap kali mementingkan bahasa Indonesia yang formal, dan kita tidak akan menemukannya dalam novel misteri ini. Novel ini terkesan santai dan mencerminkan kepribadian dari penulisnya yang terkesan nyeleneh dan ceplas-ceplos. Lihatlah contohnya dalam kata di halaman 14 : “Papi dan Mami hafal total diluar kepala, keduanya senang berantem….” Begitulah cara Asri Prabosinta memaparkan cerita, sebuah pemaparan yang aneh dan bisa dibilang tidak lumrah dalam pendeskripsian sebuah novel misteri. Tapi sekali lagi, mungkin itulah ciri khas sang penulis.

Di dalam penggunaan majas terlihat ada kejanggalan dalam istilah “seperti air di daun talas.” (halaman 30), terasa kurang tepat untuk mengungkapkan perbuatan Davy yang kerap kali menengok ke arah Albert atau ke arah Jessica ketika melihat mereka berbicara, istilah ini kerap digunakan untuk orang yang tidak punya pendirian. Sedangkan Davy adalah bukan seseorang yang tidak punya pendirian hanya saja saat itu dia terkesan ingin lebih fokus menyimak pembicaraan antara Albert dan Jessica. Kiranya penulis dapat mencari perbandingan/majas lain yang digunakan untuk mengungkapkan perbuatan Davy tersebut semisal memakai istilah “seperti menonton pertandingan bola pingpong.”


Pesan dari Novel Casuarina

Banyak pesan yang dapat kita peroleh dari membaca Novel Casuarina, Novel ini membawa pesan moral bahwa seburuk-buruknya menyimpan kejahatan pada akhirnya akan terbongkar juga, dan juga ada harapan dari penulis bahwa kematian itu sesungguhnya adalah sebuah moksa atau lepasnya ruh dari badan. Badan boleh saja hancur tapi ruh akan tetap berada dalam keabadian. Dan setelah berhasil melewati proses kematian segala rasa sakit akan binasa. sesuai perkataan Jessica :

“Luka dileherku kini tidak meninggalkan rasa sakit sedikitpun..” (halaman 9)

“Ketika malam, kalau rembulan menyinari sungai, rasanya seperti keabadian,..” (halaman 225)

“…Aku tahu selanjutnya akan kujumpai kedamaian dan ketenangan yang abadi di dunia hening bercahaya emas keperakan itu.” (halaman 228)


Kesimpulan

Melihat dari tema, isi dan pesan dari Novel ini, maka Novel Casuarina ini dirasa cukup bagus untuk dibaca. Dengan gaya bahasa Asri Prabosinta yang cool, gaul dan nyantai diharapkan pembaca dapat membaca Novel ini dengan suasana yang santai pula dan ditemani secangkir kopi hangat yang akan membantu kita memasuki alam ruh dari Novel Casuarina yang bergerak dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu maqom ke maqom lainnya, dari satu keadaan ke keadaan lainnya.

Didalam Novel ini, kadang-kadang kita akan merasakan sesuatu yang lucu yang membuat kita tersenyum geli membaca tingkah laku dari tokoh-tokohnya, dan kadang-kadang pula ada bagian yang membuat kita sedih, tegang atau mencekam, hingga jantung kita terasa berdetak lebih kencang.

Hidup adalah seperti meminum secangkir kopi hangat, ada rasa manis ada pahit, tapi karena rasa itulah secangkir kopi hangat terasa sangat nikmat…

Sabtu, 14 November 2009

Anugerah untuk Para Penulis, Sastrawan dan Penyair

Mbah teringat kepada Mukjizat yang Gusti Allah berikan kepada salah seorang Nabi yaitu Kanjeng Nabi Daud as. Gusti Allah telah memerintahkan kepada besi agar lunak dan mampu di belak-belokan sehingga terciptalah baju perang pertama. Dan juga memerintahkan kepada alam untuk sama-sama dengan Daud as berdzikir kepada Gusti Allah. Lalu sayapun membayangkan bila mana Kanjeng Nabi Daud as, telah diberikan kekuasaan sebagaimana demikian maka para penyairpun memiliki anugerah yang sama yaitu mampu membelak-belokan kata sehingga tercipta suatu padanan kata atau kalimat yang jauh melebihi logika.

Saya pernah membaca di dalam Al-Qur’an. Ada suatu batas-batas tertentu dimana seorang penyair itu akan mendapatkan maqom dalam kepenyairannya. Yaitu tidak berdusta dan selalu memuji nama Allah dalam Syairnya, dan bila melanggar dari batas-batas itu maka tempatnya adalah Neraka.

Hal tersebut dapatlah dimengerti bila dilihat dari Asbabun Nujul (Sebab-sebab turunnya Ayat), seperti yang kita sama-sama ketahui bahwa Jazirah Arab adalah bisa dibilang pusatnya dari para penyair pada jaman Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Maka Allahpun menjadikan Mukjizat Al-Quran itu berupa maha sastra tertinggi bila dilihat dalam kesusastraan dan selain itu agar tentulah lebih mudah dimengerti dan di hafalkan oleh mereka yang nota bene adalah senang dalam dunia kepenyairan.

Selintas, ingatan Mbah mengembara kepada mukjijat Nabi Musa ketika berhadapan dengan para penyihir firaun, Nabi Musa mengeluarkan Mukjijat yang selintas sama apa yang diperbuat oleh para penyihir itu yaitu berupa ular yang diciptakan dari tongkat. Tapi pada akhirnya diketahuilah bahwa apa yang dilakukan oleh Musa as adalah suatu kekuatan yang lebih besar bila dibandingkan dengan sihir (Ular dari Kanjeng Nabi Musa memakan ular-ular para penyihir). Maka begitu pula Al- Qur’an sebagai Mukjijat maka tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan karya sastra dari penyair manapun. Karena itulah Allah melaknat siapapun yang membuat Syair dengan maksud untuk mengalahkan Al-Qur’an.

Berbahagialah engkau, wahai para penulis, penyair dan sastrawan karena Allah telah meninggikan derajatmu dari masyarakat biasa karena engkau adalah para pencari Ilmu dan juga guru bagi mereka, dan segala puji marilah kita haturkan hanya kepada Gusti Allah SWT, seperti Alam semesta yang bertasbih dan berdzikir bersama Daud as.

Jakarta, 14 Nopember 2009

Belajar Mencipta Suatu Karya

Manusia telah dibekali daya cipta, rasa, karsa (Ca-Ra-Ka) oleh gusti Allah SWT. Karenanya manusia mempunyai kemampuan yang tidak terbatas untuk melahirkan sesuatu (Ha – Na). Bila manusia menginginkan terbang seperti burung maka dengan kelebihannya manusiapun mampu untuk membuat pesawat terbang, bila manusia ingin berkomunikasi dari belahan dunia lain maka di ciptalah telepon. Segalanya berasal dari bila (keinginan) lalu dengan ketekunannya untuk meraih, Gusti Allah meniupkan ruh pengetahuan (ilmu), sehingga segala sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Begitu pula dalam penciptaan suatu karya sastra (dalam hal ini puisi). Karya Sastra tercipta adalah mulanya dari keinginan (niat). Mbah teringat suatu kata: segala sesuatu itu bermula dari niat. Ternyata kata itu bukan hanya isapan jempol dan bukan pula hanya mencakup dalam sarana peribadatan (hal yang berhubungan dengan agama – budi pekerti ) tetapi ternyata mencakup segala lingkup kehidupan. Semisal IPTEK ataupun dunia karya tulis menulis.

Setelah seorang penulis mempunyai niat, maka mulailah ia akan memilih bahan tulisannya, bahan itu bisa didapat dari mana saja, bisa didapat dari Ilham, mimpi, dari kehidupan sehari-hari, dari suatu peristiwa, bahkan dari ketika kita menjumpai sebuah batu pun kita bisa menciptakan suatu karya. Batu memang mulanya tak berfungsi apa-apa tapi ketika disentuh oleh mahluk yang bernyawa, batu itupun akan ikut bernyawa.

Batu ketika di lontarkan maka akan menjadi batu pelontar, ketika di jadikan mata cincin maka menjadi batu akik, ketika di jadikan batu bata maka jadilah rumah. Jadi intinya sebuah karya itu lahir dari suatu proses yang dipilih, ditempa dan pada akhirnya keluar dari rahim berupa tulisan karya yang belum sempurna. Belum sempurna karena si karya inipun harus berjalan sendiri pada akhirnya tanpa campur tangan oleh penciptanya, dan pencipta ini hanyalah bertugas untuk memperkenalkan dan mendampingi karya tersebut agar diterima dan berbaur dengan masyarakat. Suatu karya akan dewasa ketika dia sudah mengalami proses cacian dan pujian.

Minggu, 10 Mei 2009

Boneka Kayu

Di sebuah padang rumput di tepi hutan terlihat anak gembala bercanda dengan domba-dombanya, domba-dombapun senang bercengkrama dengan anak gembala, mereka bercerita dari pagi hingga sore tentang norma, tentang ladang, tentang kandang, tentang rumput, juga tentang tahi masing-masing diri

Iseng-iseng, anak gembala membuat ketepel dari dahan pohon mahoni, pohon mahoni yang masih dini itu ditebasnya dan dibuat dua buah ketepel. Satu ketepel ia pakaikan karet gelang, satunya lagi ia biarkan telanjang, lalu disambungkan dua tubuh ketepel itu menjadi satu tubuh, dengan tali rapia, hingga lebih mirip orang-orangan tanpa kepala dari pada sebuah ketepel.

“ini senjata modifikasi.” berkata anak gembala itu kepada salah satu dombanya.

Langit mulai petang dan domba-domba pun mengembek minta pulang, sepertinya domba-domba itu rindu pada kandang. Kerewelan domba-domba itu telah menjadikan ketepel modifikasi anak gembala itu tertinggal di padang rumput, di tepi hutan.

“biar saja.” Desah si anak gembala ketika ingat ketepelnya sambil terus menggiring domba-domba itu ke kandangnya di pinggir dusun kecil yang letaknya cukup jauh dari hutan.

Malam hari Ketepel terbangung dari mimpi dilihatnya ia tak lagi sebuah pohon mahoni
ia menangisi dirinya, karena ia tak lagi berkepala.

Di hutan yang permai di kehidupannya ini, ia mulai berteman dengan para penghuni hutan seperti harimau, gajah, ular, burung, kijang, kuda dan binatang lainnya serta berteman juga dengan pepohonan, mereka hidup saling menyayangi dan bernyanyi-nyanyi setiap saat, sehari-harinya selalu di iringi dengan suka cita. Para penghuni hutan itu sepakat untuk menamai ketepel itu dengan sebutan “Si Boneka Kayu, Boneka tanpa kepala” , ledek mereka sambil tertawa-tawa.

Suatu hari Boneka kayu bertanya pada Pohon Perdu tentang keberadaannya orang tuanya.

“Ayahmu adalah angin dan ibumu adalah pohon mahoni yang sangat jelita, secantik dirimu. Tapi sungguh malang mereka bertemu hanya satu musim saja. Setelah ibumu melahirkanmu, karena kecantikannya, ia dibawa lari penebang kayu ke kota untuk di jadikan lemari. Tapi menurut kabar ibumu di jual untuk dijadikan kayu bakar” cerita Pohon Perdu

“Aku akan mencari keberadaan ibuku.” Tekad Si boneka Kayu tanpa Kepala itu.

Di waktu yang baik, hari yang baik, setelah menghitung pasaran dan disesuaikan dengan weton (hari kelahiran ketika ia pertama kali tercipta menjadi ketepel), Boneka kayu pergi ke kota dengan menunggang Kuda, terlihat sangat mempesona bak sang puteri raja tapi tanpa mahkota karena kepalanya memang tak ada, hingga sampailah mereka ditepi kota.

“Aku hanya mengantarmu sampai disini, aku takut seandainya aku masuk ke dalam kota, manusia akan menangkapku dan menjadikanku hidangan dimejanya.” ujar Kuda

“Baiklah, sampaikan salamku kepada teman-teman di hutan sana.” Jawab Boneka Kayu
Mereka pun akhirnya berpisah dengan perasaan pilu.

Sudah bertahun-tahun Boneka Kayu mencari ibunya tapi tak juga bertemu, selama bertahun-tahun itu ia tinggal di taman kota, di sebuah Bangku Kayu Tua, Bangku yang sebagian badannya sudah terbakar.

Ia senang tinggal disana karena Bangku itu mengingatkannya pada ibunya, karena Bangku itupun terbuat dari kayu mahoni, sebuah bangku usang yang sudah tidak ada yang menduduki apalagi untuk dijual tak ada orang yang sudi membelinya, tapi walaupun demikian Bangku Kayu itu tetap menetap disana bersama bangku-bangku kayu yang lain yang terlihat lebih bagus dengan cat putih yang selalu mereka kenakan untuk mengundang laki-laki duduk duduk dan bersandar sejenak menenangkan diri ditaman itu.


Suatu hari Boneka Kayu bermimpi, hutan terbakar. Sehingga ketika terbangun menjadi khawatirlah ia dengan keadaan teman-temannya di hutan. Maka iapun memutuskan untuk menengok kawan-kawannya di hutan.

“Ibu, Ananda mau pulang ke hutan, ananda ingin menengok kawan-kawan. Nanda pasti kembali kesini ?”

“ Iya Nanda, tengoklah dulu teman-temanmu.”

Boneka Kayu dan Bangku Kayu Tua berpelukan, menangis dengan tersedu. Boneka Kayu menangis karena sedih harus meninggalkan Bangku Kayu Tua yang sudah ia anggap seperti ibunya, dan Bangku Kayu Tua pun sedih karena harus ditinggalkan oleh puterinya untuk kedua kalinya.

Pertama, di saat ia harus meninggalkan puterinya yang saat itu masih kecil karena terkena bujuk rayu penebang kayu yang berjanji akan menjadikan ia sebagai Lemari kesayangan, tapi pada akhirnya ia malah dijadikan Bangku di taman kota. Ya, istilahnya saja Bangku tapi pada hakikatnya adalah kayu bakar, kayu yang terbakar matahari karena ditempatkan di taman kota, taman yang bagi bangku-bangku kayu adalah tempat yang sangat panas, hingga kulit merekapun sehitam arang dan hanya dapat dilihat oleh orang-orang yang telah suci, atau merasa suci, tapi bagi Laki-laki yang biasa duduk-duduk di taman kota tersebut, taman ini adalah taman tersejuk dan merupakan rumah kedua.

Dan kesedihan yang kedua bagi Bangku Kayu Tua adalah saat ini, ketika puterinya akan kembali ke hutan dan mungkin ia merasa tidak yakin jikalau puterinya benar-benar akan kembali lagi ke kota. Karena ia memang masih tetap merahasiakan bahwa ibu yang selama ini dicari adalah dirinya, Si Bangku Kayu Tua.

Maka pulanglah Boneka Kayu ke hutan, tapi sesampainya disana hutan yang permai itu telah hilang, yang tertinggal hanyalah kuburan-kuburan dan puing-puing jejak keindahan hutan, sebuah hutan yang gundul tanpa tanaman. Ia pun sedih tak menemukan teman-temannya, entah dimana mereka sekarang?.

Ia pun memutuskan untuk mencarinya di sekitar hutan, hingga sampailah ia ditepi hutan, Untunglah ia masih menemukan salah satu temannya, “Rumput”.

Rumput berkata : “teman-teman kita telah dibawa semua ke kota oleh orang-orang bersenjata, cepatlah kau susul ke sana, untunglah aku masih tetap disini ditolong oleh penggembala dan domba-dombanya karena mereka masih memperdulikan aku, kalau tidak entah nasibku bagaimana jadinya.”

Boneka Kayu Cantik tanpa kepala, kembali menuju ke kota. Hal pertama yang terlintas dibenaknya adalah menemui Ibu angkatnya di Taman Kota. Tapi sesampainya disana tercenganglah ia karena di Taman itu Bangku-bangku Kayu yang biasa mangkal disana telah raib entah kemana, begitu juga ibu angkatnya Bangku Kayu Tua, orang-orang bilang terjadi penggusuran oleh Pemda setempat beberapa hari yang lalu dan Pemda setempat telah menyingkirkan Bangku-Bangku Kayu dan telah di ganti dengan bangku bangku yang terbuat dari besi.

Ia pun memutuskan untuk mencari teman-temannya, ke seluruh penjuru kota ia jelajahi hingga akhirnya iapun bertemu dengan teman-temannya itu. Tapi teman-temannya sudah dipengaruhi oleh para penguasa sehingga sudah hilang tabiatnya sebagai hewan yang bebas merdeka seperti waktu di hutan dulu.

Kuda sudah menjadi Kuda besi yang tak mau lagi makan rumput dan minum air tetapi ia hanya mau minum bensin di tempat yang orang-orang kota bilang pom bensin, begitu juga dengan Kijang, Zebra, Panther mereka ditunggangi di jalan-jalan seperti layaknya hewan jinak, mungkin karena sudah terlalu sering minum bensin, sehingga mereka mereka menjadi jinak kepada manusia berduit.

Burung-burung yang dulu selalu bernyanyi riang bersamanya sewaktu di hutan pun kini dikekang di dalam sangkar dan selalu diajarkan bernyanyi melalui kaset-kaset nyanyian yang berisi tembang-tembang air mata yang memang sesuai dengan keadaanya sekarang, terkekang didalam sangkar emas.

Harimau dan Macan yang memang dulu cukup berpengaruh di hutan saat ini telah menjadi preman bekingan para pejabat yang makannya lebih mirip anjing korengan dari pada seekor Raja Rimba.

Gajah, Beruang, dan binatang lainnya telah menjadi dungu, selalu menurut untuk dinaiki oleh anak-anak kecil di mall dan plaza-plaza besar di Kota tersebut, dan untuk menaikinya anak-anak kecil itu mengeluarkan sejumlah uang kecil, yang kemudian di setorkan kepada pemilik binatang itu, dan menjadikan pemilik binatang itu kaya raya, sementara binatang-binatang dungu itu sedikitpun tidak di kasih makan, karena tubuhnya sudah dingin menjadi mesin.

Maka sedihlah hati si Boneka Kayu hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri, tapi ia mendapati kepalanya memang sudah lama tak ada, maka si Boneka Kayu tak berkepala ini memilih mati dengan menggantungkan hidup dan harga dirinya sebagai sebuah pajangan atau simpanan disebuah rumah mewah milik salah seorang pejabat Negara yang sangat kaya raya.