Jumat, 21 Mei 2010

Si Latung Mencari Sayap

Di masa lampau semua serangga tidaklah bersayap seperti masa sekarang. Mereka berjalan dengan kaki dan sebagian lagi merayap. Mereka yang mempunyai sayap dianggap sebagai binatang suci karena sudah mendapatkan kewaliannya sebagai hewan.

Sahdan, seekor ulat kecil sedang mencari jati diri. Ia merasa berbeda dengan teman-temannya. Kulitnya yang putih bersih sangat kontras dengan saudara-saudaranya yang cenderung berwarna-warni, jelek dan berbulu. Kebanyakan ulat-ulat itu teramat rakus memakan daun-daun. Teman-temannya menamai ia dengan Latung (ulat yang beruntung)

Ulat kecil ini selalu berfikir alangkah hina binatang-binatang yang memakan makanan melebihi kadar tubuhnya sehingga mereka menjadi gendut dan tak akan ada lagi kemungkinan untuk terbang. Maka ia pun berniat untuk menunjukan kepada mereka bahwa ia adalah ulat terbaik yang pernah diciptakan oleh Tuhan.

Ulat kecil berkehendak pisah dari ulat-ulat lainnya dan mulai menuruni cabang demi cabang.

“Hendak kemana engkau Latung?” bertanya temannya

“Aku hendak mengembara dan suatu saat aku akan menjadi wali bagi kalian, aku akan terbang di atas kalian dan kalian akan menghormati aku melebihi sekarang ini. Aku tahu kalian semua mencintaiku tapi aku harus pergi untuk meraih keyakinanku sebagai hewan yang ditakdirkan sebagai hewan suci seperti yang telah ditulis di kitab-kitab suci.”

“Tapi Latung… Kita sebagai ulat pantang untuk menyentuh tanah karena di permukaan tanah adalah seperti bara yg memakan kayu. Kita akan mati di lahap binatang-binatang buas.”

“Ah, akan ku lawan mereka. Aku tidak takut terhadap apapun. Aku akan buktikan pada kawan-kawan akulah yang akan memakan mereka.”

“Terserah kau saja kalau begitu, yang pasti kami akan merindukanmu Lat.”

“ Baiklah, aku pamit.”

Maka dilanjutkanlah perjalanannya menuruni pohon, yang biasa menjadi tempat ia dan kawan-kawannya bermain dan memakan dedaunan. Maka sampailah ia ditanah.

Ada sedikit keraguan kala ia melihat tanah terlihat debu-debu mengepul seperti asap panas yang menyelimuti tanah.

Ingin rasanya ia kembali ke atas pohon dan kembali kepada teman-temannya. Tapi rasa malu akan ditertawakan telah mengembalikan tekadnya untuk melanjutkan pengembaraannya.

“Oke, pendirianku harus teguh.” Begitu ucapnya dalam hati dan kaki-kaki kecilnya satu persatu mulai menginjak tanah.

“Ah, ternyata tak terjadi apa-apa.” Begitu pikirnya.

Ia pun mulai melangkahkan kakinya

Seiring dengan tergelincirnya mentari yang semakin ke tengah lama kelamaan tanah yang di injaknya semakin panas dan membuat kaki-kaki kecilnya mulai melepuh hingga akhirnya ia hanya bisa merangkak sambil merintih kesakitan.

“Ya Tuhan kenapa kau lepuhkan kakiku, lalu bagaimana aku bisa menempuh perjalanan bila kakiku seperti ini kalau kau tak segera memberiku sayap yang kokoh buatku. Maka matilah aku.” begitulah ratapnya.

Segerombolan rusa tiba-tiba berlari ke arahnya, sehingga ia pun bersusah payah untuk menghindar dari rusa-rusa yang sedang berlari itu. begitu pula kuda-kuda dan binatang-binatang lainnya dengan tidak memandang kehadirannya telah membuat ulat itu kepayahan.

“Dasar binatang-binatang bertulang, seenaknya saja menyepelekan aku. Awas ya kalian kalau ketemu lagi !” begitu gerutunya.

“ Ya Tuhan aku sudah buta, aku juga tak dapat berjalan, akupun sama sekali tak mampu lagi makan, karena dedaunan teramat tinggi untuk ku daki. Kalau memang aku kau takdirkan menjadi binatang suci, maka tunjukan aku jalan keluarnya. Aku kini sekarat ya Tuhan”

Iblis tiba-tiba saja menyelusup kedalam kalbunya. Mengambi kesempatan ketika ulat kecil itu menanti kematiannya

“ Wahai binatang yang teraniaya, aku akan menolongmu. Sesungguhnya Tuhanmu telah meninggalkanmu. Ia tak perduli lagi denganmu. Maka akan ku tunjukan cara agar kau tetap hidup dan kau bisa terbang sehingga kawan-kawanmu akan kagum dan menganggapmu orang suci. Bukankah itu yang engkau mau?”

“ Iya, tapi siapakah engkau?”

“Aku adalah Tuhan, Tuhanmu yang mengasihimu.”

“Apa yang mesti aku perbuat.”

“kau lihat bangkai rusa tua ?”

“ya..”

“makanlah dagingnya !”

“tidak, aku tidak mau. Aku tak pernah makan daging. Apalagi bangkai. Aku tak mau.”

“Kalau begitu bersiaplah menanti ajalmu dan semua impianmu akan menghilang seperti awan yang menjadi hujan.”

“Tapi, baiklah aku akan coba mendekatinya.”

Semakin dekat ulat itu mendekat, semakin tercium aroma busuknya bangkai. Maka muntahlah ia.

“Aku tidak sanggup.” Teriaknya

“Cobalah kau hampir berhasil, bukankah kau sudah mampu menahan diri untuk tidak berbuat rakus dahulu. Maka sekaranglah saatnya semua pengendalian diri itu kau gunakan. Tutuplah segala pintu indera dan kuatkan tekadmu.

Ulat kecil itupun mulai menutup seluruh indranya sehingga ia tak lagi merasakan bau. Dan mulailah ia menyentuh bangkai itu dimakanlah sedikit.

“oek..” ia pun muntah

“Wahai engkau, teguhkan hatimu. Bayangkan kau sedang memakan daun yang biasa kau makan.”

Maka mulailah dimakan sedikit demi sedikit daging itu hingga pada akhirnya ia terbiasa dan menikmatinya.

“Wahai Tuhanku, aku sungguh berterima kasih karena engkaulah aku kini dapat menyambung hidupku. Aku menagih janjimu untuk menjadikanku bersayap?”

“Baiklah Latung, bila kau hendak menjadi binatang suci maka makanlah sekuat kau mampu. Bila sudah sampai pada tahap kerakusanmu sebagai hewan maka kau akan menjadi seperti apa yang kau inginkan. Lampauilah sisi ke hewananmu !” perintah Iblis itu.

Maka latungpun semakin bergairah untuk menghabiskan bangkai itu. hingga pada akhirnya tubuhnya menghitam dan tumbuh pula kaki-kaki dan juga sayapnya. Itulah kebahagiaan terbesar yang ia nanti-nantikan. Meskipun kulitnya tak lagi putih, tapi ia yakin teman-temannya akan kagum dengan penampilannya yang sekarang.

“Inilah janji yang aku berikan, kau hanya bisa hidup dengan memakan kotoran dan bangkai. Dan mulai sekarang namamu adalah Lalat, karena engkau bukan lagi sejenis Ulat.”

Lalat pun mulai mengepak-ngepakan sayapnya terbang, terbang tinggi dengan riang seperti seekor burung yang telah lihai sambil mendengung-dengungkan kesombongannya.

“ngung.. ngung.. ngung..”

Sampailah ia di pohon tempat ia pernah tinggal. Alangkah kaget ia ketika tak didapat teman-temannya disana

‘Ah, kemana kiranya teman-temanku. Apakah mereka telah mati atau mereka menyusulku ketika aku pergi? ”

Tiba-tiba dilihatnya segerombolan binatang bersayap warna-warni terbang sambil bernyanyi-nyanyi riang melantunkan puja-puji keindahan.

“Wahai siapakah kalian binatang-binatang bersayap cantik dan tahukah kalian kemana perginya kaum ulat yang pernah tinggal di pohon ini?”

“Kami adalah kupu-kupu, kami adalah ulat-ulat yang pernah menempati pohon ini.”

“Apa.., “kagetlah Lalat

“bagaimana bisa bukankah kalian dulu begitu gemuk dan rakus tapi mengapa sekarang kalian bisa menjadi mahluk suci sepertiku?” sambungnya.

“Memang dulu kami rakus, memakan daun-daun dari pepohonan. Tetapi ketika kami tak lagi mendapati sehelai daun pun untuk kami makan, kami menjadi tersadar. Setelah itu kami semua tak lagi rakus dan menghentikan kerakusan kami dan berniat memperbaiki apa yang kami rusak hingga pada akhirnya Tuhan menganugerahkan kepada kami berupa sayap dan belalai. Sayap untuk kami terbang dan belalai ini agar kami lebih mampu membedakan makanan apa yang baik untuk kami makan. Ternyata kami memilih untuk menghisap madu yang ada di bunga. Karena niat kami semula adalah untuk menebus dosa kami maka secara tidak langsung kami telah menjadi wali Tuhan untuk menikahkan bunga-bunga. Sehingga muka bunga senantiasa berseri sepanjang musim dan menjadikan pepohonan berkembang biak.”

Tertunduklah lalat mendengar perkataan kupu-kupu itu. barulah ia tersadar dari angan-angannya, binatang suci atau wali bukanlah hanya karena punya sayap tetapi lebih cenderung kepada karunia Tuhan yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya,

Saat lalat berpikir. Bertanyalah kupu-kupu :

“Siapakah engkau sehingga tahu ihwal kami terdahulu?”

“Namaku lalat aku dahulu juga bangsa ulat, hanya aku pergi mencari kewalianku. Sedangkan bagi kalian kewalian itu mendatangimu. Lihatlah aku sekarang, tak pernah berhasil meraih kewalian, tak pernah menjadi binatang suci. Dan sekarang aku menjadi binatang menjijikan yang memakan bangkai dan kotoran dari awal sampai akhir hayat ini.”


Jakarta, 21 Mei 2010

Minggu, 17 Januari 2010

Bima dan Arimbi

: Cerpen ini ku persembahkan untuk Kekasihku Arimbi.


Namaku Bima tapi badanku tidaklah setegap Bima dalam kisah pewayangan, posturku langsing mirip layang-layang. Bila musim angin datang aku merasa diriku adalah sebuah layang-layang yang dimainkan anak-anak dipematang sawah. Mulanya aku senang terbang melambung, namun diakhir perjalanan tak luput dari putusnya benang hingga akupun menjauh dari pemilikku dan pada akhirnya terkoyak-koyak saat hujan datang.

Aku selalu yakin aku adalah titisan dari Bima seorang ksatria sejati, lelaki langit lelanang jagat. Tokoh wayang yang sangat aku kagumi.

Aku adalah seorang pemabuk yang menjadikan minuman keras sebagai teman karibku, bersamanya aku merasa kuat dan dapat melupakan segala kesedihan saat ditinggalkan oleh orang yang sangat aku cintai,

Ibuku meninggal karena TBC saat usiaku 7 tahun, sedangkan saat itu kami hanya tinggal berdua dipinggir rel kereta api di dekat stasiun Kota di wilayah Jakarta. Dan mengenai bapak, aku tak pernah merasa peduli walaupun ia telah tiada, toh aku belum pernah mengenal wajahnya. Kata ibu, bapak mati dibunuh preman pasar karena berebut lahan. Saat itu aku masih dalam kandungan.

Setelah aku lahir ibu menamaiku “Bima”. Kata ibu supaya aku tegar dengan kehidupan ini, dan ibu sering bercerita padaku, disaat mengandung ia bermimpi berjumpa dengan Raja Pandu Dewanata, seorang raja Astina. Saat itu ibu seolah-olah ada di sebuah istana yang sangat megah.

“Kuti, aku memanggilmu menghadap ke istanaku. Karena aku akan menitipkan kepadamu anakku yang bernama Bima. Jagalah ia dengan jiwa dan ragamu.”

Itulah cerita yang di ceritakan padaku. Kata ibu, aku haruslah mencontoh sifat-sifat dari Bima, agar kelak aku bisa menjadi Bima yang perkasa.

Waktu aku kecil, ibu selalu mengajarkanku agar jangan sampai melupakan Gusti Allah, harus rajin sholat dan ngaji supaya bisa mengenal diri sendiri, dan harus melindungi yang lemah agar aku bertambah kuat.

Tapi semenjak beliau meninggal, kesedihan telah mengubahku menjadi pribadi yang liar. Aku tinggalkan Gusti Allah, aku tak lagi ngaji, karena menurutku Gusti Allah tidak adil dengan mengambil satu-satunya yang berharga dihidupku. Semenjak itu aku mendewa-dewakan kekuatan, bagiku Bima adalah simbol dari kekuatan.

Ketika umurku 17 tahun, aku telah menjadi seorang preman yang paling berkuasa di Jakarta, penjahat-penjahat besar akan terkencing-kencing ketika berhadapan denganku, dan penjahat-penjahat kecil akan terbirit-birit ketika bertemu denganku. Aku sudah banyak mengenal mereka, berhadapan dan pada akhirnya aku menjadi guru bagi mereka,

Mereka datang meminta ilmu dalam bidang kejahatan. Belajar mencopet, menjambret, berkelahi, hanya membunuh yang tak aku ajarkan, karena aku belum sekalipun membunuh. Itulah sebagian ilmu yang aku berikan kepada murid-muridku para penjahat. Ah, rasanya aku benar-benar telah mewujudkan keinginanku menjadi Bima yang perkasa, seorang jagoan yang disegani di ibu kota Jakarta.

“Arum” itulah namanya, kembang lokalisasi. Aku begitu mencintainya, aku selalu cemburu ketika tiap malam ku bayangkan ia bergumul dengan lelaki lain, mendesah dan mencapai kenikmatan bersama laki-laki lain demi sekeping rupiah.

Aku kerap kali memintanya untuk berhenti menjadi seorang pelacur, dan memintanya menjadi istri yang baik untukku,

“Menikahlah denganku Rum, jadilah istriku? Kalau mengenai uang kau tahu sendiri aku tak pernah kekurangan uang. Kau tahu kan aku adalah penguasa jalanan.” itulah yang aku ucapkan untuk meyakinkannya.

“aku masih menikmati hidupku, bila waktunya tiba aku tentu mau. Cintaku hanya milikmu, Bim.” Itulah yang kerap dia ucapkan padaku, entah sebuah penolakan atau sebuah pengharapan. Aku tak pernah mengerti.

Pada suatu siang aku hendak menemuinya, rasanya rindu sekali hari itu. wajahnya begitu cantik dalam ingatanku seolah-olah sedang menari-nari dengan menggairahkan. Ah, ingin rasanya aku cepat-cepat sampai di tempat kosnya untuk melepas birahi bersama, memadu cinta dengannya layaknya suami istri.

Sesampainya di tempat Kosannya, ku ketuk pintunya. Belum sempat ketukanku sampai ke daun pintu, ku dengar desahan dua manusia berlainan jenis sedang memadu birahi.

“ Oh..yah..oh.. yah..” terdengarlah suara misterius di dalam.

“Bangsat !!!” gerutuku dalam hati.

Akupun segera mendobrak pintu itu hingga hancur.

“ Bimaa !!!.” seru Arum ketakutan ketika melihat aku berdiri di ambang pintu sambil mengobarkan amarah. Ku perhatikan sekeliling ruangan dan ku dapatkan Arum dan Beni salah satu anak buahku dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benang yang melekat di tubuh mereka.

Arum segera mengambil handuk yang ada di gantungan di samping tempat tidur dan kemudian memakainya, Begitupun Beni sedang berusaha keras memakai kembali celana dalam dan celana jeansnya.

“Arum, apa-apaan kamu apa yang kamu perbuat, sundel?.”

“Aku.. maafkan aku Bim. aku mencintai Beni, aku mencintainya...”

“Brengsek, kalian berdua telah berani menyia-nyiakan kepercayaanku.”

Amarahku meledak, diam-diam ku hunus pisau kesayanganku yang selalu ku bawa. Dan secepat kilat ku hujamkan pada tubuh Beni yang saat itu tidak siap untuk bertahan karena sedang sibuk mengenakan pakaian.

“Ah…” teriaknya ketika pisau itu menancap di jantungnya. Seketika itu matilah Beni dengan bersimbah darah.

Ku lihat Arum menggigil ketakutan, lemas di lantai tanpa mampu bersuara. Lalu segera ku cekik lehernya.

“Kau.. Kau..” kataku dengan mata merah, penuh amarah sambil bercucur air mata kepedihan.

Segera ku sabetkan pisau itu ke perutnya hingga terburailah semua isi perut dan kemudian ku gorok lehernya hingga tewaslah Arum, wanita yang aku cintai.

“Mampus kau pelacur….! hahahaha…” akupun tertawa terbahak-bahak dengan linangan air mata yang tak mampu ku bendung. Akupun berlari, lari menjauh dari kehidupanku, lari dari Arum, lari dari dunia yang telah melahirkanku menjadi seorang Bima yang di takuti.

Aku merasa telah diperkosa oleh kehidupan, tak ada lagi kekuatan, tak ada lagi Tuhan, tak ada lagi kekuasaan yang tertinggal hanyalah ketakutan, Aku hanya bisa berlari.. berlari.. berlari.. seperti seekor kijang yang diburu. Aku harus terus lari… Berlari tanpa henti… Tanpa henti…

Kala itu hari telah malam. Aku kecapaian dan tertidur di suatu teras bangunan. Di dalam mimpi itu aku berada di sebuah hutan belantara, disana kulihat aku mengenakan pakaian selayaknya seorang brahmana, di kiri kananku terlihat ke empat saudaraku Yudistira, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Dan tentu saja aku sendiri, Bima.

Ku lihat juga bersama kami berlima terdapat seorang wanita, ia ibuku Kuti. Aku tak mungkin melupakan wajah penuh kasih itu. Ia ibuku.

“Ibu ?”

“Iya, anakku Bima, aku adalah Ibumu Kunti yang kau mengenalku dengan nama Ibu Kuti. Saat ini kita sedang berjalan didalam hutan dan pergi meninggalkan Istana kerajaan, Karena Istana telah didukuki oleh binatang-binatang. Ingatlah anakku jangan tertipu oleh perwujudan. Istana hakekatnya adalah hutan dan hutan hakekatnya adalah istana. Binatang kadang kala berada di Istana dan Manusia berada di dalam hutan. Ingatlah anakku. Jangan tertipu oleh kulit luarnya.”

“ Anak-anakku, aku tak membeda-bedakan diantara kalian. Kalian adalah tetap anak-anakku. Cintaku adalah pada kalian semua. Meski kalian adalah lima orang tapi dimataku kalian adalah satu.”

Mataku menangkap sesosok mahluk tinggi besar sedang mengintip kami.

“Keluarlah.” Seruku.

Ku lihat sesosok wanita bertubuh besar keluar dari rerimbunan.

“ Hormatku untukmu Ibu dan untuk kalian wahai para ksatria. Aku adalah Arimbi dari golongan Raksesi. Aku sudah memperhatikan kalian sejak masuk ke hutan ini. “

“ Hendak apa engkau puteriku Arimbi, memperhatikan kami?” Bertanyalah ibuku

“Ampun beribu ampun Ibu, hamba tertarik pada salah satu puteramu, yang bertubuh paling besar, dia membuat aku jatuh hati, Ibu.”

“ Dia adalah Bima.” Tersungging senyum ibu saat ia memperkenalkanku. Akupun seakan tersadar bahwa tubuhku saat ini adalah tinggi besar, beda sekali dengan keadaanku yang biasa dan nampak sangat gagah dengan pakaian seorang Brahmana yang aku kenakan. Kesombongankupun timbul.

“Wahai engkau raksesi, kau tak layak padaku. Aku adalah seorang anak raja dan engkau hanyalah seorang raksesi, mahluk hina dan menjijikan.”

Ku lihat Arimbi menangis dan berusaha pergi.

“Tunggulah dahulu putriku Arimbi, biar aku bicara dahulu dengan Bima, anakku.” Ibu mencegahnya.

Arimbi menghentikan tangisnya dan kembali duduk bersimpuh.

Ibu berkata padaku:

“Bima, tak layak engkau menolak Arimbi yang mencintaimu dengan setulus hati. terimalah ia. masih ingatkah engkau Bima, janganlah engkau melihat wujudnya sebagai seorang Raksesi, tapi lihatlah kecantikan dalam hatinya. Ia adalah wanita tercantik yang pernah Ibu kenal. Terimalah ia.”

“Tapi !!.” sergahku

“Bima, lihatlah dengan hatimu.” Hardiknya

Akupun mengheningkan cipta, mencoba mendengarkan sasmita, hingga tenanglah hatiku.

“ Baik ibu, aku menerimanya aku menerima Arimbi.” Kataku.

Seketika itu Arimbi memeluk Ibuku. Mereka berdua menangis dengan bahagia. Air mata ibu berpadu dengan tangisan Arimbi. Seketika itu Arimbi berubah menjadi wanita yang sangat jelita. Aku benar-benar terpesona melihat parasnya.

“ Bangun.. Bangun.. “ ku dengar suara lembut seorang wanita.

Akupun terbangun dari tidurku. mengucek-ngucek mata.

“ Bangun.., sudah waktunya Shalat Subuh.” Katanya lagi.

“Subuh..” ujarku.

“Iya, subuh.” Ucapnya lagi.

Mataku terbelalak ketika menyaksikan sesosok wanita cantik secantik bidadari yang aku kenal, mengenakan mukena sedang duduk didepanku berusaha membangunkan.

“Arimbi..!! kau..?” seruku.

“Iya, aku Arimbi, dari mana engkau tahu namaku?” tanyanya.

Aku hanya diam.

Ternyata aku tertidur di teras sebuah Mushola, aku segera mengambil air wudhu, dan melaksanakan sembahyang berjamaah yang sudah lama tak pernah lagi ku lakukan.

Saat ku tulis cerita ini, aku masih berada di penjara. Aku menyerahkan diri kepada yang berwajib dan dikenakan hukuman kurungan selama 7 tahun. Selama dipenjara Arimbi selalu setia menjengukku. Ia adalah kekuatan baru bagi hidupku, kekuatannya sangat besar melebihi kekuatan seorang Bima bahkan melebihi kekuatan seorang Raksasa sekalipun. Yakni kekuatan CINTA.

“Arimbi... Besok kita bertemu, sayang !” gumamku menjelang tidur.

Dalam angan, Ku lihat Arimbi tersenyum bangga menyambut Bima-nya yang perkasa bebas dari hukuman.

“Terima kasih Arimbiku, cintaku, kekasih hatiku. kau sudah mau menjadi bagian dari hidupku…

Met, bobo istriku…”

Akupun tertidur dengan senyuman tersungging bahagia…

Minggu, 20 Desember 2009

Anak Langit

melalui penyatuan tujuh lapis langit itulah akan lahir anak langit
yang ku utus ia sebagai sumber harapan seluruh mahluk bumi.
pabila waktunya tiba akan aku angkat ia kembali kepadaku
dan ku tempatkan ia disisiku.




Banyu, demikianlah ku sebut namanya. Lelaki muda dengan segudang kebaikan. Beliau adalah seorang pengembara yang selalu mensyiarkan ajaran langit kepada para penghuni bumi. Dengan kehadirannya manusia seolah menemukan malaikat,

Dengan datangnya beliau disuatu tempat maka akan makmurlah tempat tersebut, karena itu raja dunia mengharapkan kehadirannya, dan setiap manusia mengelu-elukannya.

Pernah ku ingat suatu ketika ada hutan yang terbakar api dengan kobaran yang besar, Banyu di undang datang oleh seorang ketua adat untuk memadamkan kobaran api itu,. Benar saja, ketika kedatangannya, api itu segera sujud merebah dan merendah hingga akhirnya padam.

Ku dengar kabar juga disuatu negeri sedang ditimpa kelaparan, tak ada tumbuh-tumbuhan yang hidup, meranggas dibakar cahaya matahari, begitu juga hewan-hewan mati, hingga akhirnya seorang pawang yang sakti memanggil Banyu dengan ilmu telepati hingga tahulah ia bahwa di negeri itu sedang memerlukan bantuannya. Beliau datang dan membereskan masalah tersebut.

Begitu tersohornya hingga ditiap-tiap rumah seolah Banyu adalah telah menjadi bagian dari keluarga yang selalu mereka perhatikan dengan menyimpan namanya ditiap-tiap wadah dan diambil aura positifnya untuk kemakmuran mereka.

Tapi, hal itu tidak berlangsung lama, ketika raja dunia yang iri dan demi kepentingann pribadinya berusaha untuk menyingkirkan Banyu karena Banyu dianggap sebagai saingannya untuk menjadi ia sebagai raja yang paling tersohor dan dihormati.

Raja memanggil penasehat kerajaan untuk meminta nasehatnya tentang usaha untuk menghancurkan kepopuleran Banyu, atau kalau bisa membinasakannya.

“Wahai penasehat tahukah engkau, bahwa aku hendak menyingkirkan Banyu. Karena seluruh manusia telah menganggapnya rasul. Dan tahukah engkau bila di dunia ini ada rasul maka peringkat raja akan menjadi nomer dua bagi rakyat.” Berkatalah raja dunia.

“Benar sekali Baginda, hambapun beranggapan demikian. Menurut hamba memang susahlah untuk membinasakan ia, karena Bagindapun tentu tahu Banyu sungguh tiada bandingannya. Bahkan panasnya api pun takluk padanya.” jawab penasehat.

“Lantas bagaimana seharusnya?” Tanya raja tersebut.

“Menurut hamba hendaklah kita seolah berbaik-baikan saja dahulu dengan dia, hingga kita mengenal sifat dan kelemahannya.”

Maka diundanglah Banyu dalam suatu acara perjamuan akbar hingga senanglah hatinya

Raja berkata kepada rakyat-rakyatnya : “Wahai rakyatku maksudku mengadakan perjamuan ini adalah untuk menghormati jasa-jasa dari Banyu sebagai bagian dari kita semua. Ia adalah seorang utusan Tuhan yang mengendap ke bumi hingga ke dasar perut bumi, karenanya terciptalah segala macam kemakmuran dan berkat ia pulalah kita dapat melihat perwajahan* Tuhan . Maka mulai saat ini aku angkat dia sebagai satu kedudukan dengan ku.

Hingga akhirnya didapatlah tipu muslihat untuk membinasakan Banyu, yaitu dengan racun. Raja itupun menciptakan bangunan untuk membuat raja racun yang diracik dari 1000 macam racun dengan dalil untuk mensejahterakan rakyat. Maka dari racikan racun tersebut seolah tercipta dua mata uang logam, di satu sisi memang menghasilkan 1000 macam kebaikan dan di sisi lain menghasilkan 1 macam jenis racun baru yang disebut LIMBAH, raja dari segala racun.

Ketika disuatu saat limbah racun yang mempunyai mata setan itupun di alirkan ke sungai tempat dimana Bayu sedang mengisi waktu senggangnya dengan bermain dengan ikan-ikan. Tiba-tiba saja ikan-ikan menggelepar, dan Bayu sekarat penuh penderitaan, penderitaannya memancar kepenjuru negeri hingga alam raya menangis, hewan bergelimpangan dan mayat-mayat manusia berserakan

“Wahai penguasa langit, mereka telah mendustai aku. Maka angkatlah aku setelah kematianku !” Begitulah ratapan Banyu

maka terangkatlah doanya kelangit, dan Penguasa langitpun mengutus Mentari untuk menjemput jasad Banyu ke angkasa.

Dengan cahayanya Mentari berkata : “Wahai Banyu, Sang Penguasa langit telah mendengar ratapmu. Tapi engkau belum waktunya bila harus kembali ke haribaan-Nya. Kematianmu yang haq adalah ketika hari kegoncangan, hari penghancuran semesta. Maka ku hanya bisa mengangkat Jasadmu hingga ke permukaan langit, engkau dapat menyentuh muka langit tapi engkau tidak dapat masuk ke dalamnya, maka disanalah ruh-mu akan dikembalikan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang berfikir.

Maka matilah Banyu sebagai seorang syuhada dan seluruh alam seolah bersedih melepaskan kepergiannya. alam menjadi pucat pasi dengan meminjamkan warnanya membentuk titian pelangi untuk menghantarkan jasad Banyu ke langit.

Sesampainya di langit, titian pelangi pun menghilang, warnanya berpendar kembali kepada para pemiliknya di Bumi

Jasad Banyu yang telah terkontaminasi oleh racun itupun berubah menjadi awan hitam, semakin pekat, pekat dan akhirnya sesuai keputusan dari penguasa langit, ruh Banyu pun dikembalikan serupa halilintar yang menggelegar, Dan pada akhirnya Banyu pun kembali menjadi Banyu, seorang rasul yang memberi peringatan kepada manusia dengan menenggelamkan dunia dengan banjir besar, dan memberi peringatan kepada yang masih hidup bahwa tidak dibenarkan membunuh para rasul, apapun bentuk dari rasul itu.

___________________
* Penampakan yang menjadikan yakin akan ada-Nya

Selasa, 15 Desember 2009

Ketika Puisi dipertuhankan

KETIKA PUISI DIPERTUHANKAN

(Tinjauan Ilmu Sastra dan Konsep Akidah Keislaman)


Oleh :

Miftahur Rahman el-Banjary*

( Tim Milis Word Smart Center , Cairo )



Pada mulanya artikel ini hanya berupa tanggapan terhadap artikel "Puisi adalah Tuhan" yang ditulis oleh Mbah Kuntet Dilaga. Oleh karena itu, saya mengucapkan apresiasi setinggi-tingginya kepada beliau yang telah berkenan menuangkan gagasan pemikiran yang begitu menginspirasi untuk berpikir. Ketika saya mulai menulis, terbesitlah gagasan-gagasan baru yang harus saya ungkapkan, sehingga jadilah sebuah artikel singkat ini. Saya anggap tema ini menarik sebagai diskusi sastra kali ini. Sekali lagi, artikel ini hanyalah merupakan gagasan-gagasan penguatan dari artikel sebelumnya, yang masih perlu kita perbincangkan dan diskusikan lagi selanjutnya. Dengan harapan, semoga milis WSC ini menjadi lebih cerdas, kreatif, dan aktif membicarakan fenomena-fenomena sastra, sesuai dengan misi WSC yang tertuang pada konsep kedua, Gerbang Batu.


Menanggapi pernyataan 'sahabat penyair' yang mengatakan, "Puisi adalah Tuhan". Sekilas jika dilihat dari pernyataan tersebut, tampaknya terkesan provokatif, dan menggambarkan betapa sang pujangganya sangat tergila-gila pada puisi, sehingga sang pujangga sampai menempatkan puisi pada posisi sederajat dengan Tuhan. Atau bahkan, menafikan eksistensi ketuhanan. Wallahu 'alam. Saya mencoba membahas kasus diatas dengan tema yang tak jauh berbeda, "Ketika Puisi Dipertuhankan" . Tampaknya tema ini sesuai dengan realita kehidupan 'seniman tertentu' yang mengatasnamakan kebebasan berkreasi dan tak perlu mengindahkan aturan-aturan normatif, sehingga seringkali kebenaran menjadi sesuatu yang nisbi. Agar pembahasan ini lebih obyektif, maka saya akan membahasnya dari dua aspek. Pertama, tinjauan psikologis sastra atau dalam istilah sastra Arab disebut dengan manhaj nafsiyyah. Dan yang kedua adalah tinjauan akidah keislaman atau aqidah Islamiyah secara singkat.


Mengawali pembahasan kajian sastra ini, saya ingin menjelaskan terlebih dahulu tentang tahapan perkembangan daya nalar seorang sastrawan. Awalnya puisi tercipta dari hasil perenungan dan pemikiran mendalam. Ketika manusia mulai merenung, dan terus berpikir, maka ia akan menangkap suatu titik 'sinyal kesadaran', yang disebut dengan inspirasi. Inspirasi yang melahirkan suatu keindahan, seringkali kita sebut dengan seni. Dan seni yang lahir dalam bentuk rangkaian kata-kata yang sarat dengan makna, biasanya disebut dengan puisi, sajak, atau syair, dan pelakunya kita sering sebut pujangga atau penyair.


Biasanya inspirasi puisi muncul dari fenomena-fenomena alam atau kondisi sosial di sekelilingnya. Misalnya, melihat burung yang terbang melayang di langit, maka muncullah gagasan untuk membuat puisi tentang kebebasan. Terciptalah sebuah puisi, misalnya, "Aku ingin terbang seperti burung." Tahapan semacam ini, masih berpusat pada tataran realita sosiologis, artinya puisi-puisi yang dihasilkan lebih bersifat fakta kehidupan, baik itu merupakan reaksi atau pun kritik sosial, maupun pesan-pesan moril yang mengandung etika atau estetika dalam kehidupan bermasyarakat.


Pada tahapan selanjutnya, manakala seorang penyair atau pujangga hanyut tenggelam dalam 'lautan inspirasi', maka pada saat-saat tertentu nalarnya tidak lagi terbatas pada hal-hal yang kongkrit saja, dan mulailah daya nalarnya mulai masuk ke wilayah metafisika yang bersifat transcendental. Ketika ia semakin dalam menyelami samudera puisi tersebut, disanalah sang pujangga nantinya menemukan 'mutiara-mutiara' hikmah yang mulai tersingkap. Pada saat itu, yang ia rasakan hanyalah keterpukauan dan keterpesonaan yang melampaui jangkauan nalar dan logikanya sendiri. Inilah yang kemudian disebut dengan imajinasi. Dan di saat seorang pujangga sudah mencapai titik puncak keterpesonaan tertinggi, atau imajinasi tingkat tinggi, maka konsekuensinya akan mengakibatkan kondisi jiwa yang tak terkontrol dan berada di bawah titik alam sadar. Inilah yang dalam istilah dunia sufi disebut dengan istilah sakar atau sepadan dengan makna mabuk atau sakau. Ia asyik dengan dirinya sendiri bersama dunia lain.


Manakala sang pujangga tersebut mencoba mengungkapkan fenomena keterpukauanya tersebut, ternyata bahasa lisan sudah tidak mampu menterjemahkannya, kecuali hanya dengan isyarat atau simbol-simbol saja lagi. Pada kondisi semacam ini, terkadang muncullah ungkapan-ungkapan puisinya yang 'aneh', sulit untuk dipahami, membuat kebingungan orang yang mendengarnya, terkesan 'nyeleneh', bahkan bisa menimbulkan salah kaprah yang berujung fitnah, sebagaimana puisi-puisi kontraversial penyair-penyair sufi, semisal al-Hujaj dan Ibnu Araby. Yang ingin saya sampaikan disini adalah, bahwa dalam dunia sastra ada kondisi-kondisi psikologis tertentu yang menuntut sang pujangga harus 'berbahasa kontraversial untuk mengungkap rasa.'


Namun, dari tinjauan konsep aqidah Islamiyyah berbeda, ada norma-norma dan aturan yang membatasi. Dengan pengertian sederhana, ungkapan ekspresi jiwa seorang pujangga dalam bingkai 'keterpesonaan' sah-sah saja, selama tidak menyangkut batasan akidah. Kasus ungkapan "Puisi adalah Tuhan" ini misalnya, sudah termasuk dalam bentuk pengingkaran eksistensi ketaudihan Sang Pencipta Yang Maha Esa, yang dalam bahasa agama disebut syirik. Jadi, jelaslah bahwa ungkapan seperti tersebut diatas, sama sekali tidak dibenarkan dalam konsep tauhid, baik ungkapannya secara hakiki atau maknawi, baik secara tersurat atau tersirat, bahkan majazi sekalipun. Dan jelas-jelas bertentangan konsep ajaran Islam.


Secara tegas Allah swt mengecam orang-orang yang mensekutukannya dengan makhluk yang lain. Kita bisa merujuk ke surah Al- Imran: 64, surah a-Nisa: 36, al-An'am: 19, al-'Araf: 33, Yusuf: 38, al-Hajj: 26, Luqman: 13, Ghafir: 42, al-Ahqaf: 4, al-Qalam: 41, al-Jin: 2. Mengumpamakan Allah dengan sesuatu benda atau mahkluk merupakan bentuk syirik, baik itu secara 'itikad, perbuatan, maupun perkataan. Penjelasannya telah dijelaskan panjang lebar oleh Maulana Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary dalam kitab "Fasaidul Aqaid".


Argument 'sahabat penyair' yang mengatakan bahwa ketidakmampuan puisi itu diraba, namun ada secara eksistensinya, tidak dapat dijadikan dalil ketuhanan. Secara ilmu mantik saja, logika tersebut sudah bisa terbantahkan dengan analogi iblis, syetan, jin, malaikat, surga dan neraka yang secara eksistensinya juga ada, dan tidak dapat diraba secara materi. Lantas apakah setiap sesuatu yang ada eksistensinya, namun tidak dapat raba materinya dapat disebut Tuhan? Tentu tidak bisa, bukan? Sama halnya dengan akal, pikiran, khayalan, roh, udara, benda-benda abstrak lainnya, juga ada secara eksistensi, namun tidak bisa diraba. Puisi adalah hasil inspirasi dan kekuatan daya imajinasi. Dapatkah kita meraba insprasi? Tentu tidak, sebab ia bukan materi. Dengan demikian, tidak semua yang tidak bisa diraba itu disebut Tuhan!


Puisi adalah bahasa jiwa dan bahasa rasa. Sedangkan bahasa adalah ciptaan Tuhan. Setiap ciptaan Tuhan adalah makhluk. Dan makhluk tidaklah pantas disebut dengan Tuhan, dan tidak pantas pula dipertuhankan. Tidak ada sifat-sifat ketuhahan yang terdapat dalam puisi, bahkan menyerupai sifat-sifat ketuhanan sekalipun tidak sedikitpun menyerupai. Maha suci Allah dari segala bentuk penyerupaan! Oleh karena puisi adalah hasil inspirasi, daya akal manusia, maka ia bukan pula ilham apalagi wahyu. Lantaran ia bukan wahyu, maka tidak ada kebenaran mutlak di dalamnya.


Inspirasi masih berada pada tataran akal, namun ilham dan wahyu berada tataran transdental ilahiyyah. Pada prakteknya, akal masih melakukan pertarungan dengan nafsu angkara murka. Terkadang akal yang menang terhadap nafsu, dan sebaliknya nafsu yang menguasai akal. Lantaran puisi adalah karya akal manusia, maka ia semata-mata tidak akan mampu menunjukkan kepada cahaya kebenaran ilahiyah, sebab masih ada kabut nafsu yang menyilimutinya. Dengan demkian, ketika puisi 'dipertuhankan' , maka jadilah ia budak akal dan sekaligus nafsunya. Inilah alasannya mengapa Imam al-Ghazali menentang pemikiran Ibnu Araby yang menempatkan logika diatas wahyu. Wallahu'alam.


Sumber inspirasi :

-Al-Qur'an al-Karim

-Fasaid al-Aqidah, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjary

-Tahafut Falasifah, Imam Ghazali.

- Manahij Naqd al-Adab, Dr. Shalah Fadhil.

-Asalib as-Sya'ri al-Mu'ashir, Dr. Shalah Fadhil.

Senin, 14 Desember 2009

Puisi adalah Tuhan

Seorang sahabat penyair menyatakan “ Puisi adalah Tuhan” karena ia mempunyai sifat-sifat ketuhanan; ada tapi tak dapat di raba.

Tapi benarkah puisi adalah Tuhan ? tentu saja jawabannya, bukan. Puisi lebih condong kepada pewahyuan dari suatu perjalanan bathin seorang penyair yang datang baik secara spontan ataupun lewat perenungan yang dalam terhadap suatu peristiwa yang menimpa diri dan sekitarnya.

pewahyuan ini di peroleh lewat alam sadar ataupun lewat alam tak sadar. Jadi bisa di katakan puisi adalah Kitabullah, mulanya kitabullah itu tersirat (tersembunyi) kemudian datang/diketemukan, dan pada proses selanjutnya menjadi tersurat (tertulis).

Segala sesuatu yang dicipta oleh Tuhan adalah ciptaan dan bukan Tuhan, Al-Kitab (Jabur, Taurat, Injil dan Al-Quran) adalah firman Tuhan, firman bukanlah Tuhan. Nur Muhammad (cahaya semesta) berasal dari Cahaya Tuhan, tapi bukan Tuhan, Kalimatullah (Isa as) adalah Kalimat-Nya tapi bukan Tuhan karenanya Allah pun menguatkannya dengan Ruhul Quddus, kenapa dikuatkan? Karena segala ciptaan itu hakekatnya lebih lemah dari yang mencipta. Allah itu ada dengan sendirinya sedangkan selain dari Allah (Mahluk) adalah ada dengan di cipta (di adakan).

“Ah, puisiku melampaui aku!” mungkin kita pernah terperangah dengan salah satu puisi yang kita buat ternyata puisi tersebut mempunyai daya kekuatan melebihi dari pengetahuan penyair pada saat menuliskannya, ternyata puisi-puisi tersebut mempunyai karakter/sifat yang lebih dari apa yang pernah terlintas pada saat di buat, dan rahasia sebuah puisi tersebut baru nampak ketika (pembaca) mulai menyelami lautan puisi tersebut, barulah nampak isi dari samudra, bahwa bukan hanya ikan dan kerang yang ada disana tetapi juga mutiara. Itulah daya magic dari suatu puisi, itulah ruh dari puisi dan setiap ruh akan mengalami kondisi kejiwaannya sendiri, itulah kenapa seorang pembaca mungkin akan menemukan makna yang beda/pun lebih dalam penafsirannya dari si penulis karya.

Puisi pada dasarnya adalah sudah ada, seorang penulis puisi adalah penemu tapi bukan pencipta, puisi itu semisal burung-burung yang beterbangan di angkasa, maka siapa yang mempunyai akal maka akan dapat menangkapnya, ataupun seperti harta yang tersembunyi di semesta, siapa yang menemukannya maka ia akan kaya. Karenanya banyak pula para penyair yang menemukan puisinya di alam ini; di batu, air, udara, kayu, gunung dsb, ataupun didalam dunia yang tak nampak seperti kesedihan, rasa senang, cinta dan lain sebagainya.

Bila puisi yang terlahir adalah sebuah Wahyu tanpa Nabi *), dan bila didalam sebuah puisi tersebut ditemukan sebuah pengajaran (ilmu) yang baik kenapa tidak kita petik hikmah dan kemudian memakannya?

Kolonglangit, 28 Februari 2009


_________________
*) Wahyu tanpa Nabi = mengutip teoritis dari Hudan Hidayat

Selasa, 17 November 2009

Resensi Novel Casuarina

Oleh: MK. DILAGA


Sebuah peribahasa menyatakan : “Life is a dream walking, death is going home.”

Banyak orang menyatakan bahwa ketika meninggal dunia, maka secara spontanitas kita akan masuk kedalam alam keabadian, tetapi tidak begitu halnya dengan pendapat dari Asri Prabosinta. Dalam novel Casuarina, beliau mengungkapkan bahwa ada sebuah lorong yang menghubungkan antara alam nyata dan alam keabadian. Di lorong ini banyak pula ruh-ruh yang tersesat dan ingin kembali kedunia, merekalah yang disebut ruh marakayangan (gentayangan). Mereka biasanya adalah ruh-ruh yang mengalami kematian tidak wajar dan merasa harus menyelesaikan suatu urusan di dunia. Mereka berada di lorong penghubung batas alam nyata dan alam keabadian dan bermaksud kembali tetapi tiada sanggup untuk menghadirkan diri di dunia karena adanya keterbatasan bentuk, maka mereka yang termasuk roh marakayangan ini biasanya memberikan semacam tanda/firasat kepada mereka yang hidup agar urusannya dapat terselesaikan, baik itu melalui mimpi ataupun melalui penampakan, nampak disini adalah seperti bayangan yang tidak dapat diraba ataupun dirasa karena hakekatnya itu adalah ruh yang tak lagi mempunyai ruang.

Kisah dalam Novel Casuarina ini dimulai dengan sebuah kematian dari si tokoh “aku” yang selanjutnya diketahui bernama Jessica yang mati secara mengenaskan. Si Jessica ini ingin menyampaikan pesan kepada orang-orang yang dicintainya agar mereka mengetahui bahwa dia telah dibunuh dan menunjukan siapa yang telah membunuhnya.

Seperti ungkapkan dari peribahasa “Life is a dream walking, death is going home.”, bahwa kita pada mulanya berasal dari alam keabadian kemudian lahir ke alam nyata dan akan kembali pula ke alam keabadian. Inilah makna “going home” atau dalam bahasa keseharian kita mengenalnya dengan kata “dari asal akan kembali ke asal.” Maka diceritakan didalam Novel ini, Jessica yang sedang berada di lorong penghubung antara alam nyata dan alam keabadian, berpapasan dengan ruh kelahiran Sara. Maka ia memutuskan untuk menyampaikan pesannya lewat Sara, seperti perkataan Jessica “Seseorang harus ku temui. Hanya itu yang kupikirkan: Mendatangi bayi itu.”

Novel ini menyuguhkan sebuah misteri hilangnya Jessica dan berbagai macam kemungkinan tersangka dari tokoh lainnya. Semisal Jali yang pernah kehilangan pacarnya dan kemudian terobsesi kepada Jessica. Ada juga Brewok yang trauma akibat kehilangan keluarganya dalam tragedy kebakaran dan yang terakhir adalah Oom Willy, kontraktor yang membangun rumah Kayu milik keluarga Jessica.

Sara mulanya tak bisa mengenali bahwa ada yang memberikan bisikan/pesan disepanjang hidupnya. Tetapi ketika ia mulai datang ke Cijunjung, daerah tempat dimana Jessica di bunuh. Ruh Jessica lebih leluasa untuk menampakan diri hingga akhirnya ia mampu berinteraksi dengan Sara dan menampakan secara misterius keberadaannya di bawah pohon besar, dan kemudian mengajak Sara ke kediamannya di rumah kayu dekat sungai.

Sara mulanya tak menyangka kalau Jessica yang ditemuinya adalah ruh, kejanggalan ini ia dapatkan ketika ia dan ibunya melihat-lihat lukisan di gallery Albert (kekasih Jessica), dan keterangan Albert yang menyatakan bahwa Jessica telah hilang dan kemungkinan terbesar adalah Jessica telah meninggal 17 tahun yang silam.

Sara yang merasa bersimpati dan sayang kepada Jessica memutuskan untuk mencari keberadaan Jessica. Dibantu oleh kakak-kakaknya dan juga Dave serta Albert, Sara mengumpulkan informasi serta kemungkinan-kemungkinan yang melibatkan hilangnya Jessica, hingga akhirnya mendapatkan titik terang melalui sebuah Lukisan karya Albert yang dipajang di ruang tamu Oom Willy yang mengingatkan pertemuan Sara dengan Jessica. Sara dan yang lainnya mulai menyusun puzzle-puzzle misteri tersebut sehingga dapatlah diperoleh dugaan siapa yang menjadi dalang pembunuhan Jessica.


Alur, Penokohan, Latar, Gaya Bahasa dan Majas

Seperti kebanyakan Cerita Misteri, Novel ini pun menggunakan alur mundur, dimulai dari kematian si “Aku” dan selanjutnya mundur ke awal dari malapetaka itu yaitu kedatangan Jessica dan keluarganya untuk melihat pembuatan Villa barunya di Cijunjung, kemudian kedatangan si pembawa pesan Sara, lalu dilanjutkan dengan penyelidikan dan yang terakhir pengungkapan pelaku kejahatan. Tak ada tehnik yang spesial dari alurnya yang terkesan sudah umum digunakan satu-satunya yang cukup membuat terhentak dan memicu andrenalin adalah berita dari Albert tentang kematian Jessica kepada Sara. Disini pembaca akan diingatkan kembali tentang cerita awal kematian Jessica yang misterius (Bab Mimpi Indah yang Terwujud – Aku), dan mulai menerka-nerka siapa dan apa motivasi dibalik kematiannya? siapa yang melakukan pembunuhan keji itu? Dan siapa bayi yang didengar oleh sara? Apakah bayinya atau bayi orang lain?

Untuk penokohan, Asri Prabosinta cukup menguasai dan piawai menggambarkan karakter dan juga fisik dari para tokoh yang dihadirkan. Begitu juga latar dari cerita cukup detail. Walau di bab awal perihal kematian Jessica tak di jelaskan tentang kapan dan dimana Jessica dibunuh, tapi pada bab-bab selanjutnya dapat dimengerti alasan tidak adanya latar dan waktu terjadinya pembunuhan tersebut.

Gaya Bahasa dalam buku ini menggunakan bahasa yang bisa dibilang bahasa yang nyeleneh, cool, gaul dan ada di beberapa bagian yang menggunakan kata-kata puitis nan indah. Ini adalah salah satu ciri khas gaya penulisan dari Asri Prabosinta yang membedakannya dengan penulis lain yang kerap kali mementingkan bahasa Indonesia yang formal, dan kita tidak akan menemukannya dalam novel misteri ini. Novel ini terkesan santai dan mencerminkan kepribadian dari penulisnya yang terkesan nyeleneh dan ceplas-ceplos. Lihatlah contohnya dalam kata di halaman 14 : “Papi dan Mami hafal total diluar kepala, keduanya senang berantem….” Begitulah cara Asri Prabosinta memaparkan cerita, sebuah pemaparan yang aneh dan bisa dibilang tidak lumrah dalam pendeskripsian sebuah novel misteri. Tapi sekali lagi, mungkin itulah ciri khas sang penulis.

Di dalam penggunaan majas terlihat ada kejanggalan dalam istilah “seperti air di daun talas.” (halaman 30), terasa kurang tepat untuk mengungkapkan perbuatan Davy yang kerap kali menengok ke arah Albert atau ke arah Jessica ketika melihat mereka berbicara, istilah ini kerap digunakan untuk orang yang tidak punya pendirian. Sedangkan Davy adalah bukan seseorang yang tidak punya pendirian hanya saja saat itu dia terkesan ingin lebih fokus menyimak pembicaraan antara Albert dan Jessica. Kiranya penulis dapat mencari perbandingan/majas lain yang digunakan untuk mengungkapkan perbuatan Davy tersebut semisal memakai istilah “seperti menonton pertandingan bola pingpong.”


Pesan dari Novel Casuarina

Banyak pesan yang dapat kita peroleh dari membaca Novel Casuarina, Novel ini membawa pesan moral bahwa seburuk-buruknya menyimpan kejahatan pada akhirnya akan terbongkar juga, dan juga ada harapan dari penulis bahwa kematian itu sesungguhnya adalah sebuah moksa atau lepasnya ruh dari badan. Badan boleh saja hancur tapi ruh akan tetap berada dalam keabadian. Dan setelah berhasil melewati proses kematian segala rasa sakit akan binasa. sesuai perkataan Jessica :

“Luka dileherku kini tidak meninggalkan rasa sakit sedikitpun..” (halaman 9)

“Ketika malam, kalau rembulan menyinari sungai, rasanya seperti keabadian,..” (halaman 225)

“…Aku tahu selanjutnya akan kujumpai kedamaian dan ketenangan yang abadi di dunia hening bercahaya emas keperakan itu.” (halaman 228)


Kesimpulan

Melihat dari tema, isi dan pesan dari Novel ini, maka Novel Casuarina ini dirasa cukup bagus untuk dibaca. Dengan gaya bahasa Asri Prabosinta yang cool, gaul dan nyantai diharapkan pembaca dapat membaca Novel ini dengan suasana yang santai pula dan ditemani secangkir kopi hangat yang akan membantu kita memasuki alam ruh dari Novel Casuarina yang bergerak dari satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu maqom ke maqom lainnya, dari satu keadaan ke keadaan lainnya.

Didalam Novel ini, kadang-kadang kita akan merasakan sesuatu yang lucu yang membuat kita tersenyum geli membaca tingkah laku dari tokoh-tokohnya, dan kadang-kadang pula ada bagian yang membuat kita sedih, tegang atau mencekam, hingga jantung kita terasa berdetak lebih kencang.

Hidup adalah seperti meminum secangkir kopi hangat, ada rasa manis ada pahit, tapi karena rasa itulah secangkir kopi hangat terasa sangat nikmat…

Sabtu, 14 November 2009

Anugerah untuk Para Penulis, Sastrawan dan Penyair

Mbah teringat kepada Mukjizat yang Gusti Allah berikan kepada salah seorang Nabi yaitu Kanjeng Nabi Daud as. Gusti Allah telah memerintahkan kepada besi agar lunak dan mampu di belak-belokan sehingga terciptalah baju perang pertama. Dan juga memerintahkan kepada alam untuk sama-sama dengan Daud as berdzikir kepada Gusti Allah. Lalu sayapun membayangkan bila mana Kanjeng Nabi Daud as, telah diberikan kekuasaan sebagaimana demikian maka para penyairpun memiliki anugerah yang sama yaitu mampu membelak-belokan kata sehingga tercipta suatu padanan kata atau kalimat yang jauh melebihi logika.

Saya pernah membaca di dalam Al-Qur’an. Ada suatu batas-batas tertentu dimana seorang penyair itu akan mendapatkan maqom dalam kepenyairannya. Yaitu tidak berdusta dan selalu memuji nama Allah dalam Syairnya, dan bila melanggar dari batas-batas itu maka tempatnya adalah Neraka.

Hal tersebut dapatlah dimengerti bila dilihat dari Asbabun Nujul (Sebab-sebab turunnya Ayat), seperti yang kita sama-sama ketahui bahwa Jazirah Arab adalah bisa dibilang pusatnya dari para penyair pada jaman Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Maka Allahpun menjadikan Mukjizat Al-Quran itu berupa maha sastra tertinggi bila dilihat dalam kesusastraan dan selain itu agar tentulah lebih mudah dimengerti dan di hafalkan oleh mereka yang nota bene adalah senang dalam dunia kepenyairan.

Selintas, ingatan Mbah mengembara kepada mukjijat Nabi Musa ketika berhadapan dengan para penyihir firaun, Nabi Musa mengeluarkan Mukjijat yang selintas sama apa yang diperbuat oleh para penyihir itu yaitu berupa ular yang diciptakan dari tongkat. Tapi pada akhirnya diketahuilah bahwa apa yang dilakukan oleh Musa as adalah suatu kekuatan yang lebih besar bila dibandingkan dengan sihir (Ular dari Kanjeng Nabi Musa memakan ular-ular para penyihir). Maka begitu pula Al- Qur’an sebagai Mukjijat maka tentu saja tidak bisa dibandingkan dengan karya sastra dari penyair manapun. Karena itulah Allah melaknat siapapun yang membuat Syair dengan maksud untuk mengalahkan Al-Qur’an.

Berbahagialah engkau, wahai para penulis, penyair dan sastrawan karena Allah telah meninggikan derajatmu dari masyarakat biasa karena engkau adalah para pencari Ilmu dan juga guru bagi mereka, dan segala puji marilah kita haturkan hanya kepada Gusti Allah SWT, seperti Alam semesta yang bertasbih dan berdzikir bersama Daud as.

Jakarta, 14 Nopember 2009